Faktor-Faktor Penting dalam Pengembangan Agroindustri

Faktor-Faktor Penting dalam Pengembangan Agroindustri

Faktor-Faktor Penting dalam Pengembangan Agroindustri: Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan sekaligus menjadi bahan acuan dalam merumuskan instrumen regulasi pengembangan agroindustri ke depan adalah :

Penentuan Lokasi

Upaya pengembangan agroindustri yang mempunyai daya saing tinggi yang didasari oleh kenyataan bahwa agroindustri itu bersifat resources based industry, sehingga pengembangannya harus didasarkan pada wilayah potensi sumberdaya. Sehingga pemerintah diharapkan membuat peta pengembangan agroindustri. Jika hal ini dilaksanakan maka pengembangan agroindustri tidak hanya sekedar berkembang, tetapi lebih dari itu mampu meningkatkan perekonomian di daerah sekitarnya. Pendirian agroindustri dalam skala besar yang tidak didasarkan pada potensi sumberdaya wilayah seharusnya tidak diperbolehkan, sebab nantinya akan menimbulkan “foot loss industry” (Simatupang, 1990).

Pola Usaha

Pola usaha yang tepat dalam pengembangan agroindustri adalah pola kemitraan. Namun seringkah terjadi pola kemitraan dilakukan karena beberapa alasan: keterpaksaan karena himbauan pemerintah, bantuan sosial pengusaha besar, perolehan msentif atau karena hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.

Secara teoritis pola usaha agroindustri dapat dikembangkan melalui Pola Mandiri, Mitra Usaha dan Koperasi.

Teknologi

Teknologi untuk agroindustri hingga saat ini boleh dikatakan sudah cukup banyak, namun belum ada kesungguhan dari stake holder untuk menerapkannya secara bersungguh-sungguh, dunana satu skala dengan skala lainnya tidak saling terkait.

Penelitian-penelitian empiris menunjukkan bahwa sampai saat ini masyarakat boleh dikatakan jarang atau balikan tidak pemah mendapatkan penyuluhan teknologi agroindustri. Melihat situasi seperti itu maka perlu dirancang suatu lembaga yang teruitegrasi dari pusat sampai ke daerah bahkan sampai ke tingkat operasional di industri kecil menengah yang ada di pedesaan.

Pemasaran

Manajemen pemasaran adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam segi bisnis, bahkan UKM memandang bahwa permasalahan yang paling dominan yang tengah dihadapi selam faktor modal adalah kesulitan dalam memasarkan produknya.

Pengembangan agroindustri seharusnya memperhatikan product life cycle, segmentasi pasar, positioning, respon pasar dan pola persaingan, dengan demikian kegiatan manajemen pemasaran harus dilakukan secara tepat, suatu hal yang sulit dilakukan oleh agroindustri skala kecil tetapi hanya dapat dilakukan oleh perusahaan besar, pemerintah hanya dapat menganjurkan agar dapat dilakukan pola kemitraan dari segi pemasaran antar agroindustri skala kecil dengan agroindustri menengah atau besar.

Solusi untuk mengantisipasi persoalan pemasaran bagi UKMK adalah mengembangkan industri skala kecil atau UKMK yang berorientasi pada sentra produksi atau pedesaan, padat karya dan berkelanjutan, kemudian membentuk jejaring usaha (Business Network) dengan prinsip kesetaraan, sehingga memiliki kekuatan untuk menembus pasar global seperti halnya industri besar.

Keterkaitan Sektor Penunjang Agroindustri

Agroindustri yang menggunakan bahan baku hasil pertanian tentu saja sangat terkait dengan efisiensi pada sektor pertanian, jika sektor pertanian tidak berjalan secara efisien, maka tentunya juga agroindustri tidak akan berjalan efisien, faktor penting lainnya adalah pengembangan infrastruktur dan industri penunjangnya.

Agroindustri dalam era pasar bebas yang ditandai dengan efisiensi, maka peranan perlindungan oleh pemerintah akan semakin berkurang (subsidi, tarif, hak monopoli) akan hilang, sehingga tidak ada pilihan lain kecuali membuat model kebijakan endogenus yang saling menumbuhkembangkan antara industri hulu dan hilir serta komponen yang terkait dalam agroindustri.

Baca juga: Contoh Proposal Budidaya Ikan

Model kebijakan endogenus di atas menunjukkan bahwa apabila agroindustri tidak berkembang, maka akibatnya sektor pertanian juga tidak akan berkembang, sebaliknya apabila sektor pertanian tidak efisien, maka agroindustri tidak akan efisien sehingga tidak akan berkembang. Perusahaan agroindustri di hilir berkewajiban mengefisienkan industri di sektor hulu melalui transfer modal, teknologi, informasi pasar dan kualitas produk, sebaliknya industri hulu berkewajiban menjual hasilnya pada industri hilir.

Sumber: Penelitian KPJU Sulawesi Selatan oleh Institut Pertanian Bogor

Recommended For You

About the Author: Guntur Subing

Memiliki hobi tulis menulis dan mengelola blog. Moto; "Bersemangat dalam Pengembangan Diri dan Terus Belajar Sampai Akhir Hayat"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.